Sejarah berdirinya Ikatan Isteri Dokter Indonesia berawal pada zaman penjajahan Belanda sebagai Seksi Wanita dari Persatuan Dokter - dokter Indonesia ( Afdeling Dames Vereniging Voor Indonesiche Geneekundigen ). Ketika para isteri dokter yang mendampingi suaminya menghadiri Kongres IDI tahun 1952 di Bandung dijamu minum teh oleh salah seorang isteri dokter, timbullah suatu gagasan untuk mendirikan organisasi bagi para isteri dokter. Namun gagasan ini ditentang oleh beberapa isteri dokter yang telah menjadi anggota aktif pada organisasi sosial lainnya.

Ide untuk mendirikan organisasi isteri dokter ini justru disambut baik oleh para dokter khususnya Dr.R. Suharto yang menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar IDI

Pada Muktamar IDI di Semarang tanggal 19-25 Desember 1954 , dengan bantuan Dr.R.Suharto untuk pertama kali, para isteri dokter mengadakan pertemuan yang berkaitan dengan penyampaian konsep dan persiapan pembentukan organisasi isteri dokter secara Nasional.

Namun mengingat di beberapa daerah telah berdiri organisasi khusus bagi para isteri dokter Indonesia antara lain di Jakarta , Semarang , Bandung, Solo, Surabaya ( khusus bagi janda-janda dokter ), maka dipandang perlu membentuk Panitia Penyelenggaraan Pertemuan bagi para isteri dokter dari seluruh Indonesia yang diketuai Ny.Roestamadji, Ny.Parjono sebagai penulis dan Ny.H.S.Sutarman sebagai petugas yang memberikan konsep Pengurus Besar IDI , rencana Anggaran Dasar dan sebagainya.

Setelah pembicaraan-pembicaraan secara mendalam , akhirnya disetujui untuk mengadakan pemungutan suara dengan hasil sebagai berikut : 46 orang setuju, 8 orang tidak setuju, dan 1 orang abstain. Maka pada tanggal 22 Desember 1954, bertepatan dengan Hari Ibu, lahirlah keputusan untuk mendirikan organisasi Ikatan Isteri Dokter Indonesia ( disingkat IIDI ) yang berkedudukan dimana IDI berada dan berazaskan : Perikemanusiaan.

Tujuan : 1. Mempererat hubungan antara isteri dan janda dokter                                                           

              2. Melaksanakan kegiatan yang bersifat medis sosial

              3. Membantu IDI dan perkumpulan lain yang bertujuan sama

Kemudian dibentuk panitia AdHoc guna menyusun Pusat Pimpinan IIDI Sementara yang terdiri dari

             1. Ny. Azir ( Jakarta ) sebagai Ketua

             2. Ny. Soedarsono ( Bandung )

             3. Ny. Roestamadji ( Semarang )

             4. Ny. Soepardan

             5. Ny. Kartono (Solo)

             6. 1 (satu) wakil dari Surabaya

             7. 1 (satu) wakil dari Yogyakarta

Setelah setahun berjalan , atas inisiatif IIDI Cabang Jakarta , diselenggarakan Konferensi IIDI di Jakarta pada tanggal 26 Juni - 29 Juni 1956 bertempat di Gedung IDI Jl.Asem Baru ( sekarang Jl.Dr.G.S.S.J. Ratulangie no 29 ) , dihadiri oleh utusan dari Jakarta , Bandung , Cirebon, Solo, dan Semarang

Pimpinan Konferensi I adalah ibu Azir

Acara Konferensi I :

             1. Membentuk Pusat Pimpinan Sementara IIDI

             2. Menyusun Anggaran Dasar IIDI

Hasil Konferensi I

             1. Terbentuknya Pusat Pimpinan Sementara IIDI dengan Susunan Pengurus sebagai berikut:

                 Ketua            : Ny.H.S.Sutarman

                 Wakil Ketua I : Ny.Suwadi

                 Wakil Ketua II : Ny. Buntaran

                 Penulis          : Ny.Rambitan

                 Bendahara 1   : Ny.Azir

                 Bendahara 2   : Ny.Sutedjo Pembantu : Ny.Ramelan

                 Pembantu       : Ny. Salekan

             2. Tersusunnya Anggaran Dasar dan Anggaran  Rumah Tangga Sementara

             3. Menyusun Rencana Kerja tahun 1956-1957

 

Pada Konferensi II IIDI di Jakartatanggal 6-9 maret 1959, diputuskan bahwa :

             1. Konferensi II IIDI diganti namanya menjadi Muktamar IIDI

             2. Pusat Pimpinan Sementara IIDI disahkan menjadi Pengurus Besar Ikatan Isteri Dokter

                 Indonesia yang disingkat menjadi Pengurus Besar IIDI

             3. Angaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Sementara disahkan menjadi Anggaran Dasar

                 dan Anggaran Rumah Tangga Tetap